Cerpen: Kasih Ibu. Apabila terkenangkan ibunya,dada Aifa mula berombak dan manik-manik jernih mula jatuh berguguran.Hatinya pilu,sedih dan sesalan yang dirasakannya begitu berat umpama dirinya memikul satu batu besar yang bukan saja bisa melondehkan bahunya malah lebih dari itu.Dalam keheningan malam Aifa menghadap Ilahi,berdoa agar diampunkan Home/ events / Lomba Menulis Puisi & Cerpen Tema Ibu. Lomba Menulis Puisi & Cerpen Tema Ibu Unknown 01.46.00 events Edit Nomor : 001/VP/LM-II/XII-2016. Lamp : terlampir. Hal , kali ini Vio Publisher menyelenggarakan lomba berbentuk Puisi dan Cerpen dalam rangka memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2016 dengan tagline Ibuku Inspirasiku 2 Cerpen Anak Dengan Tema Mengenal Diri Sendiri. tema yang satu ini adalah mengajarkan anak untuk mengingat tanggal lahir dan belajar mengingat suatu hal penting tentang dirinya sendiri. Ulang Tahunku. Usia ku kini genap 5 tahun, hari ini aku berulang tahun. Aku sangat gembira karena ulang tahunku dirayakan ayah dan ibu beserta teman-teman di Bertepatandengan Hari Ibu, Sahabat-sahabat berkesempatan mengikuti Lomba Puisi Nasional @ peserta tidak hanya mendapatkan SERTIFIKAT tapi juga akan dapat KAOS dan GRATIS ONGKIR untuk 30 peserta tercepat mendaftar. Yuk buruan daftar sekarang, ajak temen-temen juga atau siapapun itu. Lomba Cipta Cerpen - Tema Inilahcerpen dengan tema hari guru dan ulasan lain mengenai hal-hal yang masih ada kaitannya dengan cerpen dengan tema hari guru yang Anda cari. Ayah dan Ibu sangat sayang kepadaku. Jika aku menginginkan sesuatu, pasti terpenuhi. Ayah dan Ibu selalu mengontrol apa saja kegiatan yang aku lakukan ANAKYANG MANDIRI. Di daerah Palembang Ada seorang anak yang bernama Nanda dia berasal dari keluarga yang sederhana.Dia anak ke2 dari tiga besaudara nanda ini mempunyai sifat yang beda dari saudara nya nanda ini orang nya sangat baik,suka menolong,ramah dan suka menghibur orang,sedangkan abang dan adik nya orang nya Pemarah dan egois.Nanda saat Padamomentum Hari Santri Nasional 22 Oktober Tahun 2021 ini, pemerintah melalui Kementerian Agama mengambil tema besar "Santri Siaga Jiwa dan Raga". Di sebalik tema tersebut, ada harapan besar kepada para santri, madrasah, serta pondok pesantren untuk ikut berkontribusi dalam menggapai Indonesia Emas tahun 2045. Mengambilsatu tema atau konflik dalam kehidupan. Cerita pendek berfokus pada satu permasalahan. Sehingga tokoh juga harus disesuaikan. Manfaat Refleksi Melalui Cerpen Kehidupan Sehari-hari. Banyak hal diperoleh melalui cerita pendek dari kehidupan sehari-hari, diantaranya: Banyak cerita ditulis berdasarkan kisah nyata. Duduk sini, Kak!" perintah Ibu. Aku pun tidak bisa menolak perintah Ibu yang kata orang cantik dan lembut. "Eh Kak, ambilkan pizza dan air minum ya, bawa ke sini!" perintah Ibu lagi. Selang beberapa menit aku sudah membawa satu piring pizza dan air putih pesanan Ibu. "Ayo minum dan makan dulu pizza-nya, ini empuk banget mirip pipimu, Dik!" CerpenPendidikan - Berikut ini akan dibagikan beberapa cerpen pendidikan sebagai bacaan ringan bertema pendidikan dan sekolah yang penuh pesan moral dan sebagai sumber referensi untuk mempelajari struktur cerpen untuk membuatnya sendiri. Silahkan Disimak! Daftar IsiKumpulan cerpen pendidikanCerpen Pendidikan - Mengukir Pelangi Di Negeri RangsangCerpen Pendidikan - Kartini Masa Inilahcontoh cerpen tema hari guru dan ulasan lain mengenai hal-hal yang masih ada kaitannya dengan contoh cerpen tema hari guru yang Anda cari. Berikut ini tersedia beberapa artikel yang menjelaskan secara lengkap tentang contoh cerpen tema hari guru. Klik pada judul artikel untuk memulai membaca. terutama Ibu bisa saja menggantikan peran HariIbu. Cerpen: Harapan Ibu Desember 13, 2 komentar untuk "Cerpen: Harapan Ibu" Sri 13 Desember, 2021 18:21. Matur suwun, Bang GP. Salam sukses, sehat selalu bersama orang-orang yang mencintai. 30 Tema Kegiatan Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1444 H yang Bagus dan Berkesan Menarik Untukmu. Menu Halaman Statis. Contact; Temadalam cerpen petuah ibu adalah tentang tema parenting atau pendidikan orangtua yang diberikan kepada anaknya sebagai bekal di hidunya agar menjadi anak yang berilmu dan berakhlaq. Cerpen ini mengandung nilai cerpen menghormati orangtua untuk anak dan tanggung jawab orangtua untuk memberikan kasih sayang dan mendidik anaknya untuk menjadi Dalampenulisan artikel ini menggunakan kajian kritik sastra objektif pada sebuah cerpen yang berjudul Rembulan Di Mata Ibu Karya Asma Nadia. Cerpen Rembulan Di Mata Ibu mengisahkan seorang gadis bernama Diah, ia hidup sendiri di kota untuk berkuliah dengan mengandalkan beasiswa. Diah tidak pernah pulang mengunjungi sang ibu di kampung Ictpg. TEMA IBU ,DIRIMU TAK KAN TERGANTI Judul Pengorbanan Seorang Ibu Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibu dan ayah ku hanya lah seorang petani. Sejak aku kecil aku sudah merasakan pahitnya hidup ini. Hidup serba kekurang, untuk makan sehari-hari pun kadang kami sering berhutang. setiap harinya ayah dan ibu bekerja di kebun berangkat pagi pulang jam 5 sore,dan aku pun di asuh oleh pulang dari kebun ibupun harus mengurus dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika aku mulai memasuki sekolah dasar, Aku sering Suatu malam aku sakit demam tinggi, ibuku yang tengah tertidur lelap disampingku terpaksa bangun karena mendengar suara rintihanku, “panas… panas…” dengan cekatan ibuku mengambil sebuah wadah baskom plastik dan diambilnya sebuah kaos putih untuk selanjutnya dimasukkannya kaos tersebut ke dalam baskom yang telah diisi air hangat lalu ibu memerasnya dan diletakkannya kaos yang basah itu di itu Ayah dan ibuku tak mempunyai uang untuk membawa ku kedokter. Saat itu hanya ada beberapa ekor ayam yang merupakan barang berharga bagi mereka. Maka mereka menjual ayam itu untuk membawaku kedokter. Sampai ibu ku rela berhutang beras untuk makan kami sekeluarga. Sampai sekarang memori itu tidak akan hilang dari otakku. Dimana aku mulai pertama kalinya merasakan pengorbanan yang sangat berarti untuk hidupku,pengorbanan ayah dan ibu. Pengorbanan itu takkan pernah aku lupakan walau nanti ku yakin waktu tidak akan abadi, dan waktu akan merampas mereka dari hidupku. Waktu terus berjalan dan terus berlalu jenjangku semakin tinggi, dan kebutuhan hiduppun semakin lama semakin meningkat. Aku memasuki sekolah menengah Pertama SMP. Saat itu aku ingin membeli seragam sekolah namun ibu belum mempunyai uang yang cukup. Namun aku tetap memaksa ibu untuk membelikan. Hingga selepas sholat magrib ibupun pergi . Dan ia pun pulang membawa uang dan berkata “ nak besok kita kepasar membeli seragam sekolah”. Akupun merasa senang karena akan memiliki seragam baru. Aku tak pernah tau dari mana ibu mendapatkan uang itu? Karena dipikiranku hanya berangkat ke sekolah seragam putih abu-abu yang baru. Ketika aku berada di kelas satu SMP,aku tidak pernah mendapatkan prestasi . Tapi Ibuku tak pernah marah pada ku ia hanya berkata “belajar yang rajin lagi ya nak”. Disini aku mulai berpikir dan aku tetap berusaha dan tidak menyerah menghadapinya aku terus berjuang untuk meraih perestasi itu. Dan perjuanganku tersebut mulai menemui titik terangnya, ketika aku duduk di bangku kelas 2 SMP , aku memenangkan sebuah kemenangan lomba tingkat kabupaten. Dan disinilah aku mulai percaya bahwa aku memiliki potensi yang akan menolong hidupku kelak. Pada suatu malam ibu memberi nasihat kepadaku “ Nak, belajar lah dengan sungguh-sungguh hingga suatu saat engkau bisa mencapai apa yang engkau cita-citakan, ibu dan bapak tak bisa memberikan mu harta yang banyak karena kami tak punya itu semua. Hanya dO’a Ibu dan bapak yang senantiasa mengiri setiap langkahmu. semoga kelak engkau menjadi orang sukses. Mendengar perkataan ibu air mata ini ingin sekali jatuh ,tapi masih aku tahan,aku tak ingin melihat ibu bersedih. Hingga kata-kata yang terakhir iyang diucapkan ibu “ nak jika engkau menjadi orang yang sukses jangan pernah pada ibu dan bapak. Aku pun hanya melemparkan senyum kepada ibu dan menuju kekamar,dikamarlah kuluapkan semua kesedihan itu dan air matapun jatuh tak bisa ku bendung lagi. Disini lah aku baru sadar bahwa kasih sayang seorang ibu tak kan pernah putus sampai kapanpun dan ibu tak akan tergantikan oleh siapapun. Thank you mother for all that you do..* I LOVE YOU MOM HAPPY MOTHER’S DAY.. Tamat Oleh TATIK PRISNAMASARI Untuk pertama mengikuti Lomba menulis cerpen dalam rangka peringkatan “Hari Ibu” di STAIN CURUP” tahun 2014 Cara menulis cerpen bagi para pemula Mententukan Tema misalnya “Ibu, Dirimu takkan pernah terganti” Apa yang protagonis inginkan? Apa yang antagonis mau? Masalahnya apa? “Anak yang melawan ibunya” Apa yang protagonis lakukan ketika klimaks? Bagaimana kesimpulannya? “sang anak menyadari bahwa ibu adalah seorang yang paling berjasa dalam hidup ini. Portal Kudus - Inilah cerita pendek Cerpen Hari Ibu terbaru dan menyentuh hati, ungkapan cinta dan kado terindah untuk Ibu tersayang. Berikut ini adalah kumpulan cerpen dengan tema Ibu, cocok digunakan untuk memperingati Hari Ibu 2021. Hari Ibu menjadi salah satu hari penting yang dinantikan banyak orang, untuk menyambut dan memperingatinya. Momen peringatan khusus yang diperuntukkan untuk Ibu, sebagai ungkapan rasa sayang dan cinta. Baca Juga 14 Ucapan Selamat Hari Ibu 2021 Terbaru, Singkat, Menyentuh Hati Cocok Dijadikan Kado untuk Ibu Tersayang Kepada pahlawan kehidupan yang selalu ada dan bahkan akan selamanya ada, untuk buah hatinya dimanapaun dan kapanpun. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengungkapkan rasa sayang kepada Ibu, bisa dengan membuatkan cerita pendek. Khusus ditulis ataupun dirangkai untuk diberikan kepada Ibu, tepat dihari peringatan Hari Ibu 22 Desember 2021 nanti. Berikut ini adalah beberapa cerpen khusus untuk Ibu, dengan rangkaian kisah yang menyentuh hati dan bermakna dalam. Ibu adalah sumber kisah yang tak pernah habis dituliskan. Dengan kasih sayang, cinta, dan tanpa minta balasan, cerita tentang ibu selalu menarik untuk dibaca. Apakah kamu salah satu yang suka cerpen tentang ibu? Berikut ini adalah 10 cerita inspiratif tentang Ibu yang bisa membuatmu tersentuh. Selamat Isi1 “Selamat Hari Ibu!”2 Nafas Terakhir3 Kekuatan Doa4 Ibuku Pahlawan Sesama5 Satu Roti6 Kuping Ternyaman7 Kebanggaan Rana8 Kantor Polisi di Pagi Hari9 Jalan Sabar Terpanjang10 Bunda dan Wida“Selamat Hari Ibu!”Sumber foto rawpixel dari FreepikAku ingat, saat usia belasan, teman-temanku sangat sibuk membuat pernak-pernik atau hadiah saat hari ibu tiba. Tetapi, aku hanya melihat mereka membungkus kado warna warni dan menuliskan kalimat-kalimat manis untuk ibu mereka masing-masing. Sementara aku, lelaki yang sejak umur belasan sudah memiliki sifat dingin rasanya tak punya waktu untuk menbuat hal remeh seperti itu. Ya, karena aku tak punya subuh, aku membantu ibuku di pasar untuk menjual sayuran. Pukul tujuh aku harus berangkat sekolah dan Ibu masih sempat masak dan memberiku bekal makan siang. Ya walaupun Cuma sayur kangkung dan telor aja setiap harinya. Setelah pulang sekolah, aku mengerjakan PR dan langsung membantu ibuku kembali di ladang. Ladang yang tak seberapa itu emang peninggalan almarhum ayah dan menjadi sumber pendapatan kami. Sore tiba Ibu masih mengajarkan aku dan teman-temanku mengaji. Jadi, setiap hari, aku selalu bareng suatu ketika aku berbicara pada Ibu, bahwa aku tidak memberikan hadiah apa-apa di Hari Ibu. Lalu, ibuku pun menjawab,“Ibu nggak perlu hadiah apa-apa. Kamu selalu sehat dan berbakti sama Ibu aja itu juga hadiah” entah mengapa aku merasakan ucapan Ibu sangat tulus. Apalagi sambil mengelus-elus kepalaku yang waktu itu aku sedang tiduran di setelah dewasa, aku mengerti maksudnya. Karena berasal dari sumber harapan Ibu, aku pun berhasil memberikan hadiah yang belasan tahun lalu aku tak mampu membelinya. Setelah mendapatkan gaji pertama setelah lulus kuliah, aku langsung membelikan kalung emas s bermata yang sangat cocok dipakai Ibu. Bagiku, Ibu adalah sumber inspirasi pertama yang sangat dekat denganku. Di hari ibu ini, aku akhirnya melakukan apa yang ingin kulakukan dari dulu memasangkan kalung emas tersebut di leher Ibu sambil mengucapkan Selamat hari ibu, Bu.”Baca juga 10 Cerpen Persahabatan Dengan Berbagai PesanNafas TerakhirAku tidak pernah menginginkan jadi seorang ibu. Setelah kejadian masa kecil yang selalu membayangi hari-hariku sampai saat ini. Aku menangis, menangis, dan terus menangis jika mengingat luka itu. Kejadian itu bermula saat usiaku menginjak 7 tahun. Bunda yang kukenal selalu tersenyum, bahkan di saat Ayah tak pernah pulang ke rumah lagi dan meninggalkan beberapa bekas luka di tubuh memutuskan menjadi seorang single parents. Kini, Ayah rela meninggalkan segala yang ia punya hanya demi kegilaan sesaat bersama kekasih yang hanya guru SMP honorer dengan gaji standar harus berjualan camilan kacang di sekolah. Terkadang juga ia titipkan ke warung-warung sekitar rumah. Sering kulihat ia menangis malam-malam di kamar sambil mencium satu-satunya kemeja Ayah yang tubuhnya yang dulu berisi, kulihat ia semakin kurus. Seringkali kudengar batuknya pun tak kunjung berhenti, walaupun berkali-kali obat telah ia minum. Di tengah rasa sakitnya itu, ia selalu mengajariku belajar. Ia tak pernah letih walaupun siang dan malam ia harus mencari uang untuk kebutuhan kami berdua. Yang selalu kuingat adalah perkataannya di kala ia tidur berdua di ranjang yang sudah reot.“Kau harus tau Raya, kita harus selalu bisa mandiri apapun yang terjadi. Uhuk uhuk” batuk tetap mengiringi ucapannya. “Semua yang Bunda lakukan untuk kamu, karena cuma kamu yang Bunda punya” lanjutnya lagi dengan lemas.“Aku juga cuma punya Bunda”Tak ada tanggapan lagi darinya. Tak kudengar juga hela nafasnya yang berat. Di pelukanku, Bunda sudah menjadi seonggok DoaSumber foto rawpixel dari freepikDi balik sikapnya yang selalu riang, Tasya terkadang merasa sedih. Apalagi di saat segala hal yang ia inginkan tidak terwujud. Misalnya pada hari ini, ia ingin memenangkan cerdas cermat antarsekolah. Tetapi, poin timnya hanya berbeda lima dengan poin sekolah lain. Alhasil, timnya tidak memenangkan hadiah pulang ke rumah dalam keadaan kecewa, marah, dan sedih. Campur aduk. Bahkan ia membanting pintu kamarnya dan membuat Ibu bertanya-tanya. Satu jam berlalu, Ibu pun tidak diperkenankan masuk kamar oleh sore tiba, barulah Tasya keluar kamar dan menemui Ibu di ruang tengah. Ia langsung memeluk Ibunya sambal menceritakan apa yang terjadi.“Udah Sya, dari sini kan kamu bisa belajar gimana nanti cara menghadapi sekolah lain kalau ada adu cerdas cermat lagi. Ibu juga gak berhenti selalu ngedoain kamu. Barangkali apa yang belum kamu dapatkan hari ini, itu adalah hal yang terbaik menurut Tuhan” suara Ibu meneduhkan dan berusaha menenangkan Tasya.“Iya, Bu. Maafkan Tasya juga. Mungkin Tasya banyak salah juga ke Ibu”Setelah percakapan itu, entah mengapa kehidupan Tasya jadi sangat dipermudah. Baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Bahkan saat ada lomba cerdas cermat lagi, ia bisa meraih juara pertama. Akhirnya ia tahu sumber segala kemudahan ialah dari doa Ibu dan berbuat baik kepada Ibu. Bagi Tasya, Ibu adalah Wanita inspiratif yang membuat segala hal yang tidak mungkin menjadi sangat Pahlawan SesamaAlea kelabakan mencari cerpen inspiratif yang harus ia tulis untuk tugas Bahasa Indonesia. Apalagi setelah ia mendengar cerita-cerita dari teman-temannya yang sangat penuh inspirasi. Sampai pukul 9 malam, ia pun tak kunjung menulis cerita, padahal tugas harus sudah dikumpulkan besok ia mendengar Ibu baru pulang dari jaga malam sebagai perawat. Alea menyambutnya dengan senang dan memberikan air putih hangat kepada ibunya. Ibunya sudah berusia 40 tahun, tapi rumah sakit masih terus membutuhkan tenaganya. Apalagi di saat krisis pandemi seperti ini yang membutuhkan banyak tenaga pun langsung membersihkan diri. Setelah itu Alea mendekati ibunya kembali. Ia selalu senang mendengar cerita-cerita di rumah sakit tempat ibunya bekerja. Ada perawat yang selalu diberi hadiah oleh pasien, ada pasien yang selalu mogok makan tapi cuma pengen disuapi sama satu perawat, ada juga Ibu yang selalu siaga berada di ruang UGD.“Hari ini ada cerita apa, Bu?”“Hmm”, Ibu berusaha mengingat-ingat sambal mengeringkan rambut “Hari ini Ibu menemui pasien UGD yang hampir nggak bisa diselamatkan. Tensinya sudah redah, napasnya sudah sesak, tapi berkat pertolongan pertama ia bisa jalani perawatan”“Wah sungguh mulia memang perawat dan dokter ya, Bu.”“Kita selalu diajarkan ikhlas untuk membantu nyawa orang Lea. Karena manusia bukan sembarang nyawa. Di sana ada harapan, cinta, dan keluarga yang selalu menunggunya pulang.”Alea mengangguk setuju. Lantas ia meninggalkan kamar Ibu dan beranjak kembali ke kamar. Kini ia tahu kisah inspiratif apa yang akan ia tulis untuk tugas besok.“Aku akan menuliskan kisah ibuku, ia pahlawan dalam bidang tenaga kesehatan!”Satu RotiSumber foto Vladvictoria dari PixabayIbuku dahulu cuma punya satu roti setiap sore. Roti tersebut ia dapat dari majikannya karena sudah tidak bernafsu makan roti lagi. Lalu satu roti isi tersebut ia bagi tiga, untukku, Ria adikku yang beda satu tahun, dan Hara adikku yang berusia 6 tahun. Kala itu aku masih remaja dan egois menguasaiku. Aku terkadang tidak mau berbagi dengan kedua adikku. Namun, ibu selalu berkata,“Bimo, Ibu janji nanti Ibu akan mempunyai banyak roti dan kamu tidak perlu berbagi dengan adikmu. Tapi, untuk saat ini, tolong bagi tiga dengan adik-adikmu, ya.”Aku terpaksa mengangguk kala itu. Usiaku 12 tahun dan selalu diajarkan untuk menjadi dewasa. Aku membantu ibuku di rumah majikan seperti memotong rumput atau mencuci pakaian. Aku melihat ibu selalu terlihat keletihan, namun ia tidak pernah suatu hari, Ibu memutuskan untuk berhenti kerja. Padahal, aku tahu, gaji yang diberikan majikan sangatlah besar dan cukup untuk makan sehari-hari serta ditabung. Ibu mempunyai rencana yang baru kuketahui beberapa hari setelahnya. Ia membeli beberapa loyang, dua karung terigu, ragi, dan coklat. Ia pun membeli oven baru, karena sebelumnya oven di rumah sudah menjadi belajar membuat roti dari majikannya. Ternyata, beberapa tahun kerja di sana, membuat Ibu memiliki keahlian dalam bidang bakery. Awalnya ia gagal berkali-gali dan tak ada yang ingin membeli rotinya. Tetapi ia terus berusaha tanpa pantang menyerah. Lalu ketekunan Ibu membuahkan hasil. Ia berhasil mendapatkan orderan yang sangat banyak. Bahkan, kini orderan kue dan rotinya terus membanjiri. Aku dan Ria sering membantunya di tahun ibu menjadi pengusaha kue dan roti, ternyata mampu meningkatkan kualitas hidup kami. Aku tak lagi belajar di meja reot yang sudah dimakan rayap, Ria bisa membeli buku kesukaannya, dan Hara bisa memakan buah apapun yang dia mau. Dan kami, tak perlu lagi memakan roti yang harus dibagi tiga. Itu semua berkat Ibu dan kesuksesannya yang besar. Kuping TernyamanPandu sudah bosan dengan orang yang selalu berbicara dan selalu ingin didengar. Menurutnya, kehidupan dewasa menjadi semakin menyebalkan. Ia lelah harus berpura-pura mendengar boss yang memarahi setiap karyawan, termasuk dirinya. Ia Lelah mendengar pacarnya yang banyak mau dan selalu nuntut. Sampai akhirnya, ia meninggalkan itu pergi ke kampung halamannya yang sudah tak ia kunjungi hampir dua tahun lamanya. Ia pun sudah jarang menelpon ibunya untuk sekadar menanyakan kabar, hanya kiriman uang sebagai kewajibannya. Di pekarangan rumah yang teduh itu, seorang Ibu terduduk lemas di kursi roda. Ia tak sanggup berdiri karena kakinya tak mampu menopang badan. Panca langsung menghambur dan memeluk ibu dengan tangis yang pecah.“Ibu, maafkan Pandu.” Ibu hanya memeluk Panca dengan lebih erat sambal mengusap kepala anaknya.“Kamu kenapa, Du? Ada yang pengen kamu ceritain?”Tangis Pandu semakin deras membasahi rok batik ibunya. Pelan-pelan ia ceritakan kegelisahan yang ia alami di kota. Baik itu tentang pekerjaan, kisah cintanya, dan kehidupannya yang tak sedamai di kampung. Ibu hanya memeluk dan terus mengelus kepala anak lanang satu-satunya merasa, di sinilah ia merasakan tempat ternyaman. Kuping ternyaman yang tak menuntut dan mengutuk apapun. Ibu selalu sabar menghadapinya, bahkan ia sendiri jarang mendengar suara ibu, walaupun hanya dari telepon. Baginya, Ibu adalah sumber kenyamanan sekaligus menjadi inspirasi dalam menjalani hidup agar selalu tenang dan merasa itu, mereka tutup dengan lauk ikan asin serta sambel goreng. Tak lupa dengan cerita-cerita Ibu yang selalu menghibur Pandu sejak ia masih duduk di bangku SD. Pandu merasa itulah hari di mana ia hidup RanaSumber foto Vladvictoria dari Pixabay“Apa cita-cita kamu Rana?” tanya seorang guru di yang duduk di kelas 6 SD itu dengan mentap menjawab, “Menjadi seperti Mama, Bu!”Lalu seisi kelas ramai bersorak dan bertepuk tangan. Bagaimana tidak, Rana ialah anak dari pemain bulu tangkis yang pernah mengharumkan nama bangsa. Kini mamanya bekerja sebagai pelatih untuk bulu tangkis.“Jadi atlet maksud kamu, Rana?” tanya guru kembali“Gak Cuma itu bu. Mama memang bikin bangga negara. Tapi ia juga menjadi kebanggaan keluarga. Ia masih bisa nyuci dan masak walaupun ada latihan. Ia masih bisa nemenin aku menghafal perkalian matematika sambil olahraga. Pokoknya dia serba bisa, Bu.”“Nah anak-anak, seperti itulah seorang Ibu. Ia adalah sosok yang serba bisa dan sangat luar biasa. Gak cuma mamanya Rana saja yang bekerja menjadi atlet terus masih bisa ngurusin keluarga, Ibu yakin, mama kalian juga adalah sosok yang luar biasa.”“Tapi, bu, aku juga pengen jadi atlet kayak mamanya Rana deh” ujar Olive sambil mengacungkan tangan“Kamu bisa mulai berlatih dari sekarang, Olive. Mungkin nanti kamu bisa bertanya dan berlatih bersama Rana.”Rana dan Olive saling memandang lalu tersenyum. Rana sangat bangga kepada Sang Mama yang hebat dalam segala hal. Ia tak sabar pulang ke rumah menikmati pudding segar yang telah Mama buat dan sorenya ia akan berlatih bulu tangkis. Sungguh ia sangat menanti Polisi di Pagi HariSaat suara burung gereja mengalun dan orang-orang sedang menyeduh kopi, kantor lebih sepi dari biasanya. Tiba-tiba ada seorang ibu yang datang dengan tergesa, menanyakan siapa polisi yang sedang sebahunya terlihat kusut, pakaian blouse warna putih bercampur dengan peluh sehingga memperlihatkan warna kecokelatan. Ia sangat panik sampai-sampai kalimatnya selalu mengantung.“Tolong pak. Tolong anak.. saya anak saya..”Pak Toro, yang sedang bertugas dengan sigap menghampiri ibu tersebut. Ia memberikan segelas air putih dan berusaha menenangkan si IbuSetelah Pak Toro berhasil membuat si Ibu tenang, ia pun menulis laporan seperti biasa. Tentu saja si ibu tetap bercerita dengan berurai air mata. Pukul 11 siang kemarin, saat jam anaknya pulang sekolah, ibu hendak menjemput anaknya. Namun, karena ia harus menyelesaikan tugas rumah, ia menjemput anaknya telat 30 menit. Saat sesampainya di sekolah, anaknya sudah tidak ada dan tidak ada jejak kasus tersebut menjadi kasus anak hilang. Pak Toro menyarankan agar ibu tersebut tetap tenang dan pulang ke rumah. Sementara kasus ini akan ditangani polisi sebaik mungkin. Namun, ia tetap menyebarkan pamflet foto anaknya ke setiap sudut kota dan menghubungi beberapa teman dekatnya untuk sama-sama mencari. Siang dan malam matanya tak pernah Lelah untuk mencari anak semata wayangnya. Padahal, tak sedikit orang yang menganggap anaknya sudah meninggal dan tak bisa hari berlalu, si Ibu tetap duduk di depan kantor polisi. Sampai saat si Ibu hendak pulang karena putus asa, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.“Mama….!!” Anak lelaki berusia 8 tahun itu berlari menghampiri ibunya. Lalu disusul Pak Toro yang bernapas lega karena si anak berhasil ditemukan dari segerombolan penculik. Untungnya, penculik telah berhasil diringkus.“Nak, Mamamu luar biasa, ia rela begadang semalaman di kantor polisi dan mencarimu kemana-mana” ujar Pak Toro sambil mengelus pelan anak Toro tersenyum puas. Kisah antara ibu dan anak memang selalu mengharukan. Namun, ia baru melihat keyakinan seorang ibu bahwa anaknya tetap hidup dan tetap juga 10 Contoh Cerpen Cinta Dengan Berbagai PesanJalan Sabar TerpanjangSumber foto Gerd Altmann dari PixabayAku hendak turun di terminal Rambutan saat seorang Wanita paruh baya tiba-tiba duduk di jok bis sebelahku yang kosong. Ternyata ia sejak tadi duduk tepat di belakangku, namun baru memberanikan diri bertanya.“Permisi, Dek. Kalau daerah Kebayoran di mana ya?”“Oh ibu nanti naik taksi atau transjakarta saja. Karena masih jauh dari terminal ini.” Iya hanya mengangguk terus tersenyum. Wajahnya sangat terlihat letih tapi ia berusaha untuk sembunyikan, memang perjalanan 12 jam ini juga membuatku Lelah padahal masih berusia 20 tahunan.“Ibu mau ke rumah siapa kah?”“Ke rumah anak, Dek”“Tau alamat rumahnya, Bu? Tanyaku lagi namun ia hanya tak mungkin aku meninggalkannya, aku pun inisiatif untuk menelepon si anak ibu ini. Tetapi, teleponnya tak kunjung diangkat. Perut sudah berbunyi, aku baru teringat belum sarapan, sementara waktu sudah menunjukan pukul satu siang. Akhirnya aku pun mengajak si Ibu untuk mencari warteg di sekitaran yang Bernama Bu Asih itu sudah lama pengen menemui anak sulungnya yang tinggal di Jakarta. Ia bercerita tentang kehidupan keluarga kecilnya di pedalaman Jawa Tengah sana. Sejak usia 20 tahun, anak sulungnya sudah meninggalkan rumah dan memutuskan untuk merantau. Si Ibu juga bercerita dengan antusias, kalua tiap bulan selalu dikirimkan uang yang cukup dari hasil usaha tekstil. Dulu, ia harus memeras tebu dan dijual untuk membiayai anak-anaknya. Tapi, aku meragukan kebaikan anaknya. Buktinya, anaknya itu tidak menelpon si ibu yang kebingungan di terminal saat pukul empat sore, tak a a tanda-tanda anaknya menelpon balik. Sementara aku harus segera pulang ke rumah. Saat hendak berpamitan, mobil Pajero hitam bertengker di depan kami. Kulihat pria berusia tiga puluh tahunan akhir menyapa kami dan mencium tangan si Ibu. Kulihat juga airmata ibu yang menetes di ujung si anak sulung yang si Ibu bangga-banggakan ini adalah seorang entrepreneur terkenal yang pernah jadi narasumber di kampusku, Pak Doni. Pak Doni baru sempat menjemput Sang Ibu karena ada hal yang harus diurus dulu. Aku termenung, si Ibu tetap sabar. Ia bahkan tetap memeluk anaknya lama, walaupun si anak sudah membuat si Ibu menunggu. Memang, menjadi seorang ibu adalah jalan sabar dan WidaSejak kecil, Wida selalu diajarkan sesuai apapun yang ia mau. Ketika berusia 6 tahun, Wida senang menari, maka Bunda memasukannya ke sanggar tari. Lalu memasuki SMP, Wida menyenangi dunia musik, Bunda pun mengizinkannya untuk bergabung dengan band di sekolahnya. Dari SD sampai SMA Wida juga senang dengan dunia pengetahuan alam, makanya, Bunda senang mengajarinya biologi dan memasukannya les matematika. Semua yang Wida butuhkan, Bunda selalu suatu hari, Wida seolah kehilangan jati dirinya. Di usianya yang menginjak 17 tahun, ia mengurung diri di kamar seharian. Bunda pun cemas, karena tidak seperti biasanya Wida mengurung diri, apalagi di hari ulang ketika Bunda hendak mengantarkan makanan, pintu kamar Wida terbuka. Bunda pun menyelinap masuk, dan bertanya,“Kamu baik-baik aja, sayang? Selamat ulang tahun, yaa”“Makasih, Bun” jawab Wida datar sambil membelakangi Bunda“Ayo makan dulu”Tak ada jawaban dari Wida. Bunda yang mengira, Wida ingin punya waktu sendiri pun beranjak keluar kamar. Saat di ambang pintu, tiba-tiba Wida bersuara.“Bunda, aku nggak lanjutin kuliah tahun ini gimana?” Bunda berbalik lalu menanyakan maksudnya. Wida ingin menjadi penulis dan hanya ingin menulis kapanpun ia mau. Awalnya Bunda nggak setuju, tapi mereka membuat kesepakatan.“Okey, bunda izinkan nggak kuliah tahun ini. Tapi tahun-tahun berikutnya kamu harus, ya. Kamu juga harus bisa buktiin, kalau waktu kamu yang terbuang itu bisa dimaksimalin dengan menulis. Bikin buku, atau karya-karyamu masuk media misalnya.”Wida menyepakati hal tersebut. Ia memuluk Bunda dengan sangat lama. Sebenarnya, ia sudah menyenangi dunia tulis menulis sejak lama. Namun di antara banyak hobinya, menulis adalah yang paling ia senangi. Ia bisa berimajinasi jadi apapun dan di manapun dengan waktu berselang, tak terasa satu tahun pun sudah lewat. Nama Wida Hamidah melekat di koran dan media online. Ia dikenal sebagai penulis cerita anak yang berbakat. Wida tak melupakan janjinya, ia juga berkuliah setelah menunda satu tahun. Bunda pun bangga kepadanya. Namun, tanpa Bunda sadari, Wida lah yang sangat bangga memiliki Bunda. Karena Bunda selalu mendukung apapun yang ia inginkan selama itu baik buat anaknya. Wida merasa, jika ia sudah dewasa, ia ingin menjadi ibu seperti juga 10 Cerpen Remaja Dengan Berbagai PesanGimana? Udah baca semuanya? Kamu suka cerpen yang mana aja, nih? Semoga 10 cerpen ibu ini bisa bikin kamu buat selalu ingat ibu, ya. Tan, kau seperti oasis di tengah gurun. Kau menghidupkan mimpi-mimpi lamaku yang sempat mati suri karena kekolotan ayahku. Dulu, ketika ayah benar-benar melarangku untuk melanjutkan hobi ini, bahkan sampai berkeras membakar semua lukisanku, aku memutuskan pergi dari rumah. Saat itu, aku mengira impianku telah mati, dan mungkin aku hanya akan berakhir sebagai gelandangan. Tapi, ternyata tidak. Kau datang ke kosan itu sehari setelah kedatanganku, dan tampaknya kita memang ditakdirkan bekerja sama. Kita mendirikan sebuah galeri di sebuah gudang di kota yang letaknya cukup terpencil. Itu semua agar kita bisa sedikit menghemat modal yang ada. Kita berjalan dari titik paling minus. Di saat orang-orang masih memandang rendah lukisanku. Hingga hari itu datang, seorang kolektor lukisan besar tanpa sengaja mampir karena hujan. Siapa sangka dia akhirnya memborong lukisanku, mengenalkan ke teman-temannya, dan jadilah kita seperti sekarang ini. Terkenal, dan punya banyak harta. Mengingat-ingat itu aku jadi bingung mengapa kau mengundurkan diri. Bodoh. Lamunanku buyar ketika pintu ruang kerjaku diketuk. Aku mempersilakan masuk. Ternyata itu Riki, salah satu staf di galeriku. “Ada surat untuk bapak.” “Oh, iya.” Aku menyuruh Riki keluar, lalu membuka amplop surat itu. Kubaca pengirimnya Rustan. Ada urusan apa anak ini mengirim surat kepadaku? 1. Apa kabar kakak? 8 tahun kita tak jumpa, dan kuharap kau baik-baik saja di sana. Mungkin kau agak sedikit bertanya-tanya untuk apa aku mengirim surat ini. Tak usah cemas, Kak. Aku tahu kau sudah jadi orang sukses, kaya raya, tapi aku sama sekali tak punya niatan untuk meminta sepeserpun dari uangmu yang banyak itu. Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin belum kau ketahui. Pertama, mengenai peristiwa 8 tahun lalu, ketika ayah membakar lukisanmu. Ibu sama sekali tak ikut campur. Bahkan dialah orang yang mati-matian melarang ayah berbuat seperti itu, asal kau tahu saja, setiap malam ibu selalu membujuk ayah agar tak lagi berkeras hati memintamu jadi pegawai pajak seperti dirinya. - “Ibu tak ikut campur? Ya, memang. Saat hari kejadian itu, aku sedang bersama Ibu di ruang tamu, aku berniat melukis wajahnya di kanvas yang baru aku beli. Tapi, tiba-tiba ayah datang, marah padaku, dan titik puncaknya, dia membakar semua lukisanku. Tapi, aku benci Ibu. Saat aku kabur dari rumah, dia hanya diam tanpa berusaha mencegahku atau lebih-lebih mau ikut bersamaku. Saat itu aku yakin Ibu juga pasti ada di pihak ayah.” - Kedua, diamnya ibu hari itu bukan berarti dia merelakan kepergianmu. Ibu sempat berkata padaku, dia diam karena sakit yang dia rasakan waktu itu melebihi apapun. Tak ada kata yang dapat keluar dari mulutnya, tak ada tangis yang mengalir di matanya. Dan, kau perlu kau tahu, Kak, kalau berhari-hari setelah kepergianmu, Ibu menjadi seorang yang berbeda. Dia tak pernah tersenyum sekalipun ada yang lucu di televisi. Dia hanya mengkhawatirkan dirimu, Kak. - Aku diam. Lanjut membaca halaman berikutnya dari surat itu. - Ketiga, untuk mengurangi kekhawatirannya terhadap kondisimu, dia memanggil saudara jauhnya, yang bahkan aku sendiri awalnya tak tahu siapa dia. Namanya Tan. Ibu mengirimnya sebagai agen rahasia, dia melacak jejakmu dan menemukanmu di kosan itu. Dia mengabdikan seluruh hidupnya pada Ibu dan dirimu. Mungkin kau juga tak tahu, ketika dia minta izin pulang, sebenarnya dia sedang mengirimkan informasi kepada Ibu. Hahaha. Ibu selalu cerewet menanyainya ketika pulang, dan tak ada satu pun dari pertanyaan itu yang tak berkaitan denganmu. Bahkan aku suka kesal sendiri, Ibu hanya sibuk memikirkan kondisimu, dan sama sekali tak mengkhawatirkan Tan. Dan, begitu kau sukses dan sudah aman, Tan memutuskan kembali ke sini. - “Tan? Orang suruhan Ibu? Tak mungkin! Kalau memang benar Tan orang suruhan Ibu, yang setiap bulan pulang untuk menyampaikan informasi tentangku kepada Ibu, berarti Ibu sudah tahu dimana aku tinggal, bukan? Lalu, kalau memang dia mengkhawatirkanku, mengapa dia tidak menjemputku saja dengan paksa? Rustan pasti berbohong. Pasti!” - Keempat, meski kita tak terlalu dekat sebagai saudara, aku tetap mengenal sifatmu, Kak. Di sana kau pasti bertanya-tanya, mengapa Ibu menjemputmu saja, toh dia sudah tahu tempat tinggalmu dari Tan? Dulu, aku juga sempat bertanya-tanya mengenai hal itu, dan Ibu menjawab, “Asalkan Rusdi bisa bahagia, Ibu akan lakukan segalanya, termasuk bila harus tinggal jauh darinya.” Kau tahu? Ibu mengira kau membenci dirinya, dan keyakinan itu semakin kuat ketika kau tak datang ke pemakaman ayah, meski sudah kukirimi surat berulang kali. Dan, sekarang, mungkin kau sedang sibuk bekerja. Tapi, tolong, biarkan aku menyampaikan satu hal lagi. Kak, surat ini aku kirim tanpa sepengatahuan Ibu. Kalau dia masih mampu, mungkin dia akan mengawasiku dan melarangku kalau aku kedapatan menulis surat ini untukmu. Ibu tak ingin rahasianya terbongkar, tapi aku sudah tak tahan, Kak. Ibu sudah mendekati saat-saat terakhirnya, dan kupikir kedatanganmu pastilah akan jadi sesuatu yang sangat membahagiakan baginya. Ini semua didasari atas keinginanku sendiri, Kak. Bukan Ibu atau orang lain. Tak masalah bila kau menolak permintaanku yang dulu-dulu, tapi sekarang tolonglah turuti permintaanku. Hanya ini yang aku minta darimu, Kak. Tolonglah sempatkan dirimu untuk pulang ke rumah. -Rustan. Pintuku kembali diketuk. Aku buru-buru menghapus air mataku yang mulai keluar, lalu mempersilakan orang itu masuk. “Oh, kamu, ada apa lagi Riki?” “Saya cuma mau mengingatkan, Pak, kalau besok bapak ada janji bertemu dengan Bapak Johan.” “O… oke. Terima kasih, Riki.” “Baik, Pak. Saya permisi.” “Eh, eh, tunggu Riki,… “ “Iya, Pak?” “…sepertinya besok… saya tak bisa hadir.” *** Aku sudah menginjakan kaki lagi di sini. Di tempat aku dilahirkan dulu, sebuah rumah sederhana yang dibangun di tengah lingkungan persawahan. Setiap pijakan kakiku, aku merasakan tanah ini menyapaku, juga rumput-rumput itu yang seperti menyampaikan salam rindunya padaku. Rumahku sepi. Aku memanggil-manggil Rustan, tak ada yang menyahut. Beberapa menit kemudian, barulah aku melihat seorang anak kecil lewat di depan rumah. Dia bilang semua orang ada di pemakaman. Aku tak memikirkan apa-apa lagi setelah itu. Aku berlari dengan kencang, menembus gerimis yang mulai turun. Di pemakaman, aku melihat kerumunan orang dengan pakaian hitam-hitam. Aku mengenali dua orang di sana sebagai adiku, Rustan dan mantan asistenku, Tan. Aku berlari mendekatinya, menembus kerumunan orang, dan melihat nisan itu… nisan bertuliskan nama Ibu. Kurasakan kakiku lemas seketika, aku tertunduk di makam ibu, aku menangis sejadi-jadinya sembari memeluk batu nisan itu. Aku kecewa pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa sebodoh ini? Meninggalkan Ibu yang sebenarnya sangat sayang padaku. Meninggalkan Ibu yang sebenarnya mendukung impianku. Meninggalkan Ibu yang selalu menitipkan doanya padaku. Hingga pemakaman itu hanya menyisakan dua orang, Rustan dan Tan, aku masih memeluk nisan Ibu. Mereka berdua lalu menarik tanganku untuk berdiri. Rustan merangkul pundaku dan berkata, “Tak usah menangis lagi, Kak. Di kejauhan sana, Ibu pasti melihat kedatanganmu… dan dia pasti sedang tersenyum di sana.” Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke galeriku. Di dalam tas di ruang kerjaku, aku mengambil lukisan wajah Ibu yang baru setengah jadi. Satu-satunya lukisan yang berhasil aku amankan dari amukan ayah. Kulanjutkan lagi lukisan itu. Melukis sebuah senyum paling manis di wajah Ibu, sembari berharap dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. *** Kalau berkenaan bolehlah teman-teman komunitas bisa menulis ini memberikan tanggapan seperti rate atau komentar. Tanggapan dari kalian semua, sangat berarti bagi saya.

cerpen tema hari ibu